Minggu, 10 Agustus 2014

JADIKAN SURABAYA MAKIN CAK CUK


Kota Surabaya sebagai kota metropolitan kedua di Indonesia setelah Jakarta selalu ramai dikunjungi oleh turis domestik maupun mancanegara. Begitu banyak aset sejarah Surabaya yang dijadikan sebagai obyek wisata yang menarik pecinta eksotika bangunan bersejarah. Karena peminat wisata sejarah Surabaya yang cukup besar ini menjadikan peluang bisnis bagi Dwita Roesmika dan Hendra Wardhana, untuk membuat sebuah toko Cenderamata berlatar belakang Surabaya.
Dengan berbekal keinginan kuat untuk dapat memberikan sesuatu yang khas dari kota Surabaya selain makanan dan sesuatu yang sifatnya tahan lama, Dwita dan Hendra membangun sebuah toko cenderamata. Bahasa sapaan sehari-hari masyarakat Surabaya akhirnya menginspirasi nama dari toko cenderamata ini,sehingga dinamailah Cak-Cuk Surabaya Kata-kata Kota Kita. Di tengah persaingan tajam antara pengusaha Cenderamata, Cak-Cuk berhasil menempatkan Brandnya ditempat terdepan mayoritas Pecinta kota Surabaya, tentunya dengan melakukan inovasi terus-menerus. Hingga kini Cak-Cuk mempunyai tiga Cabang di Surabaya, yakni di Jl. Darmawangsa, Jl. Gunung Sari dan Jl. A.Yani.
Berbagai cenderamata bertemakan Surabaya telah diproduksi oleh toko yang berdiri sejak 2005 ini, diantaranya Kaos, Pin, Magnet, Patung, Mug, Tas, Remi, dan Monodolly. Harga yang ditawarkan beragam dari mulai Rp 5000,- untuk Pin dan Kaos dihargai mulai Rp 44.000,- untuk anak-anak dan Rp 64.000,- untuk dewasa. Dari semua cenderamata yang dijual Kaos menjadi barang favorit pengunjung untuk dibeli.

Terdapat empat macam tema Sablon Kaos diantaranya Surabaya Kota Pahlawan,Surabaya Kota Meso,Surabaya Kota Makanan dan Surabaya kota Lokalisasi. Seluruh Kaos berbahan Katun dengan berbagai model baik yang berkerah,oblong hingga lengan panjang, produksi Bandung yang kemudian diproduksi sendiri di pabrik Surabaya dan disablon di Sidoarjo .
Cak-Cuk juga menawarkan promo setiap pembelian cenderamata minimal Rp.100.000,- berlaku untuk kelipatannya akan mendapatkan voucher senilai Rp.28.000,- yang bisa ditukarkan sewaktu-waktu. Untuk menjaga keorisinilan Cak-Cuk Surabaya mereka tidak membuka cabang di luar kota ataupun memasarkannya selain di Surabaya. “Kami menerima pesanan tetapi untuk menjaga agar Cak-Cuk menjadi sesuatu yang hanya dapat ditemui jika berkunjung di Surabaya,maka kami tidak memasarkannya ke tempat selain Surabaya” ujar Dita Stocker Cak-Cuk Surabaya.

CAK CUK COUNTER SURABAYA
Jl. Dharmawangsa 35, 
Jl. Mayjen sungkono 35, 
Jl. Ahmad Yani 263, 
Jl. Golf I/60
Jl. Kedungcowek 86
SURABAYA 

naskah, foto | nur afni rachman 

Kamis, 07 Agustus 2014

Sentuhan Modern Art di Artotel




Mengusung konsep yang berbeda, Artotel berdiri dengan sentuhan modern art yang kental. Pilihan konsep ini membuat keberadaannya jadi sangat mencuri perhatian. Maklum, kawasan Jl Dr Soetomo, tempat hotel ini berada, banyak dipenuhi bangunan bergaya arsitektur lama.
Memasuki lobby hotel, pengunjung langsung disambut dengan beragam furniture unik dan lukisan-lukisan yang cantik. Di pojok kanan lobby terdapat rangkaian anak tangga artistik yang menjadi icon hotel ini,karena pada dinding tangga dihiasi oleh karya Darbotz yang menggambarkan kehidupan metropolis,sebuah lobby yang lebih layak disebut sebagai gallery.
Artotel memiliki 6 lantai dengan 106 kamar. Nama kamar yang dipilih terbilang unik. Yaitu Studio 20, Studio 25 dan Studio 30. Nama ini mewakili luas keseluruhan kamar. Misal, Studio 20 berarati luas kamarnya 20 meter persegi.
Tidak hanya lobby hotel yang dihiasi oleh furniture dan gambar-gambar unik,hal serupa juga dapat dinikmati di dalam kamar hotel yang wallpapernya di design serupa dengan lukisan-lukisan asli seperti yang bertengger di dinding lobby.
Setiap pintu kamar memiliki warna yang berbeda yang nantinya akan menyesuaikan dengan wallpaper kamar diantaranya warna hijau muda yang mengidentitaskan bahwa wallpaper kamar berjudul Dreams yang Artistnya tidak mau di sebutkan identitasnya,Warna Abu-abu dengan wallpaper berjudul Soverign Black Mirror karya Arkiv Vilmansa,Biru Muda dengan wallpaper yang menceritakan tentang Perbedaan Karakter karya Faishal Habibie dan kamar terfavorit adalah Warna Orange yang wallpapernya berjudul Cerita Tentang Berbagi karya Hendara “hehe” Harsono.
Kamar yang dibandrol minimal Rp.470.000/nett memiliki fasilitas yang terbilang lengkap mulai dan yang membuat kamar Artotel lebih berbeda lagi dengan kamar hotel lainnya,Interior kamar dibuat 3 dimensi dan lebih uniknya lagi pintu
kamar mandi dan pintu lemari di jadikan satu sehingga membuatnya multifungsi.
Hotel berbintang tiga ini juga menyediakan Restoran yang akan memanjakan perut baik yang berselera lokal maupun mancanegara, Salah satu menu andalan restoran Artotel ialah Bakmi Fuagra (BFG) yang di bandrol Rp.68.000 rupiah/porsi. Hotel yang beralamatkan di Jalan Dr.Soetomo no. 79-81 Surabaya ini merencanakan untuk selalu berinovasi setiap bulannya.
“Jadi apabila pengunjung dapat melihat nuansa lobby seperti ini saat ini,bisa saja ketika ia berkunjung kembali kemari bulan berikutnya ia akan merasa panggling karena kami telah mengubah seluruh aspek yang ia lihat sebelumnya,” ujar Satriani M.Damanik, Sales and Marketing Manager Artotel, Surabaya.

 ARTOTEL SURABAYA
 Jl. Dr.soetomo no. 79-81, Surabaya
 Jawa Timur 60264




naskah, foto | nur afni rachman

Selasa, 05 Agustus 2014

Menjelajah Waktu Di Lawang Sewu Yang Berdaya Mistis


Kampung Eropa atau Little Netherland merupakan sebutan untuk wilayah yang dihuni oleh orang-orang Belanda di kota Semarang. Banyak bangunan Belanda terdapat di Kota Semarang yang masih terawat hinggga kini salah satunya yakni Lawang Sewu (Seribu Pintu).Bangunan yang terletak di samping Tugu Muda semarang ini merupakan bangunan yang termasuk cagar budaya di Kota Semarang, Jawa Tengah. Berada di pusat kota Semarang dikelilingi bangunan dengan konsep yang lebih modern. Namun, bangunan ini tetap berdiri kokoh dan masih sempurna artistik dan keunikannya. Dahulunya, Lawang Sewu merupakan bangunan yang berfungsi sebagai kantor perkeretaapian jaman Hindia Belanda atau biasa disebut dengan Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS.

 Nama Lawang Sewu di cetuskan bukan karena jumlah pintu yang terdapat pada bangunan ini berjumlah seribu pintu melainkan mereka menghitung banyaknya daun pintu pada bangunan yang mengandung aura mistis ini. Sejarah mencatat, bahwa pada era pemerintah Hindia Belanda membutuhkan sarana kantor yang strategis dan mampu menampung semua kegiatan lintas kereta api yang sangat komplek, karena kantor stasiun yang ada ternyata tidak lagi mencukupi untuk digunakan sebagai pusat stasiun dan kantor kereta api dan jika diperhatikan lorong-lorong di bangunan ini dibuat menyerupai gerbong kereta api.
Lawang Sewu selain menjadi saksi sejarah perkeretaapian Indonesia, juga menyimpan sejarah panjang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pertempuran yang dahsyat tersebut bernama Pertempuran Lima Hari Semarang antara rakyat Indonesia dan Militer Jepang. Pada saat itu, Lawang sewu menjadi benteng pertahanan terakhir pertempuran yang banyak menewaskan pemuda Indonesia.
saluran pendingin
lawang sewu dari terlihat dari atas
bagian dalam musium
Hal yang membuat lawang sewu lebih berkesan mistis terletak di saluran pendingin ruangan yang terletak dibawah tanah gedung ini. Tempat yang pada awalnya dipergunakan sebagai tempat penampungan air sebagai pendingin ruangan saat zaman Belanda ini beralih fungsi sebagai penjara dan tempat eksekusi para tentara Belanda dan Rakyat Indonesia yang melawan kekuasaan Jepang setelah Indonesia jatuh ke tangan Jepang kala itu sehingga tak salah jika hawa mistis semakin kuat ketika pengunjung mulai memasuki ruang bawah tanah tersebut. Terdapat beberapa tempat pesakitan di sepanjang lorong bawah tanah tersebut tipisnya udara dan sedikitnya pencahayaan membuat  lorong bawah tanah tersebut semakin pengap,dan apabila pengunjung telah sampai pada area eksekusi yakni tempat hukuman mati bagi para tahanan dengan cara memenggal kepalanya,akan tercium bau tak sedap yang menusuk hidung. Gedung bersejarah ini juga semakin dikenal oleh khalayak sejak tim “Uji Nyali” mengadakan uji nyali di tempat ini. Gedung yang di kelola oleh PT.KAI ini saat ini mulai dipergunakan sebagai tempat seminar ataupun pameran di Semarang yang bertujuan untuk meminimalisir anggapan masyarakat bahwa gedung ini berhantu dan mengerikan. Selain itu gedung ini juga diperuntukkan sebagai salah satu objek wisata kota lama Semarang yang dapat dikunjungi pada siang ataupun malam hari dengan merogoh kocek senilai 10.000 rupiah per-orang dan 30.000 untuk membayar para guide per-sepuluh pengunjung. Sementara untuk memasuki kawasan bawah tanah pengunjung harus membayar lagi 10.000 rupiah untuk sewa sepatu boots dan senter karena keadaan di dalam lorong yang basah dan tak terlalu banyak pencahayaan. Di bagian timur gedung juga terdapat mini musium yang menyimpan berbagai benda bersejarah, foto-foto mengenai lawang sewu dan juga menjual berbagai aksesoris khas lawang sewu.

LAWANG SEWU
Jl. Soegiyopranoto, Semarang
Jawa Tengah

naskah, foto | nur afni rachman